
Gerakan “Ayo Menulis” Siap Dongkrak Skor PISA Siswa Indonesia
Gerakan “Ayo Menulis” Siap Dongkrak Skor PISA Siswa Indonesia Dengan Berbagai Fakta-Fakta Menarik Yang Wajib Tahu. Literasi siswa Indonesia kembali menjadi perhatian. Tentunya setelah hasil PISA 2025 menunjukkan kemampuan membaca pelajar masih menghadapi tantangan. Di tengah kondisi tersebut, Gerakan Ayo Menulis diperkuat untuk mendorong kebiasaan menulis, mengolah informasi. serta menyampaikan gagasan secara terstruktur. Program yang di gagas SiDU ini di arahkan menjadi salah satu upaya memperkuat budaya literasi sejak sekolah dasar dalam Gerakan “Ayo Menulis”. Data OECD mencatat siswa Indonesia memperoleh skor membaca 365 poin pada PISA 2025. Angka tersebut masih berada di bawah rata-rata OECD yang mencapai 461 poin.
Meski skor membaca Indonesia naik tujuh poin. Jika di bandingkan PISA 2022, OECD menyebut perubahan tersebut belum signifikan secara statistik. Kondisi itu menunjukkan peningkatan kemampuan literasi membutuhkan proses panjang dan konsisten. Sebelumnya, PISA 2022 juga mencatat hanya sekitar 25 persen siswa Indonesia mencapai Level 2 atau lebih tinggi dalam kemampuan membaca, sedangkan rata-rata OECD mencapai 74 persen. Karena itu, penguatan literasi tidak cukup hanya melalui kegiatan membaca. Siswa juga perlu belajar memahami informasi, menentukan gagasan utama. Kemudian juga menyusun argumen, dan menuangkan pemikiran dalam tulisan. Di sinilah aktivitas menulis dapat menjadi bagian penting dari pembelajaran dalam Gerakan “Ayo Menulis”.
Gerakan Ayo Menulis Perluas Jangkauan
Gerakan Ayo Menulis Perluas Jangkauan yang telah di jalankan SiDU sejak 2017. Hingga 2025, program tersebut menyebut telah menjangkau lebih dari 1.600 sekolah dengan melibatkan lebih dari 127.000 siswa, 3.300 guru, serta 12.200 orang tua. Memasuki 2026, penguatan program melakukannya melalui CIA Festival 2026 yang berlangsung pada 2-4 Oktober di Jakarta. Kegiatannya mencakup lokakarya menulis opini, sosialisasi modul menulis opini bagi guru. Tentunya hingga dukungan buku tulis bagi pelajar di daerah yang membutuhkan. Selain itu, Lomba Menulis Opini SiDU 2026/2027 dijadwalkan berlangsung pada November 2026 hingga Januari 2027. Ajang tersebut dapat menjadi ruang bagi pelajar untuk berlatih mengolah informasi. Kemudian juga yang membangun argumentasi, dan menyampaikan pendapat secara lebih terarah.
Riset Tunjukkan Dampak Aktivitas Menulis
Penguatan Gerakan Ayo Menulis juga di dukung Riset Tunjukkan Dampak Aktivitas Menulis Fakultas Pendidikan dan Bahasa Unika Atma Jaya, SiDU, dan majalah Cahaya Inspirasi Anak. Penelitian yang dilakukan pada 2024 itu melibatkan 2.293 siswa kelas 4 dan 5 dari 106 sekolah dasar di Jakarta dan sekitarnya. Hasil penelitian menunjukkan 81 persen peserta mengalami peningkatan kemampuan literasi. Tentunya setelah mengikuti aktivitas menulis menggunakan modul Ayo Menulis. Peningkatan terutama terlihat pada pemahaman bacaan, struktur tulisan, dan kemampuan berpikir kritis. Temuan tersebut memberikan gambaran bahwa menulis tangan bukan sekadar latihan membentuk huruf. Aktivitas ini juga dapat menjadi sarana bagi siswa untuk mengorganisasi ide dan menghubungkan informasi yang mereka baca dengan pemikiran sendiri. Namun, riset tersebut tetap perlu di pahami sebagai salah satu bukti pendukung. Akan tetapi bukan jaminan bahwa sebuah program secara langsung akan menaikkan skor PISA.
Menulis Jadi Kebiasaan, Bukan Sekadar Tugas
Upaya meningkatkan skor PISA pada akhirnya membutuhkan Menulis Jadi Kebiasaan, Bukan Sekadar Tugas. Guru memiliki peran penting dalam menciptakan tugas menulis yang mendorong siswa berpikir, bukan sekadar menyalin. Orang tua pun dapat membangun kebiasaan sederhana, misalnya mengajak anak menulis pengalaman, pendapat, atau ringkasan bacaan. Di sisi lain, sekolah perlu memastikan kegiatan literasi berlangsung konsisten dan sesuai usia siswa. Dengan demikian, menulis dapat berkembang menjadi kebiasaan yang menyenangkan. Serta yang sekaligus melatih kemampuan memahami informasi. Gerakan Ayo Menulis memang tidak dapat di posisikan sebagai satu-satunya solusi untuk persoalan PISA Indonesia. Namun, ketika membaca dan menulis melakukannya secara beriringan, siswa memiliki lebih banyak kesempatan untuk memahami informasi, menyusun gagasan. Serta mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Konsistensi inilah yang menjadi modal penting bagi penguatan literasi Indonesia dalam menghadapi asesmen internasional berikutnya dalam Gerakan “Ayo Menulis” .