Cita Tenun Indonesia Unjuk "Lungsara" Di Fashion Nation

Cita Tenun Indonesia Unjuk “Lungsara” Di Fashion Nation

Cita Tenun Indonesia Unjuk “Lungsara” Di Fashion Nation Dengan Berbagai Fakta-Fakta Menarik Yang Wajib Di Ketahui. Tentu Cita Tenun Indonesia kembali membawa kekayaan wastra Nusantara ke panggung mode melalui LUNGSARA: The Essence of Nusantara dalam gelaran 20th Fashion Nation di Senayan City, Jakarta. Peragaan yang berlangsung pada 23 September 2026 ini mempertemukan kain tradisional. Tentunya dari sejumlah daerah dengan interpretasi desainer muda. Bukan sekadar pertunjukan busana, LUNGSARA menjadi ruang untuk menunjukkan bahwa tenun Indonesia dapat terus berkembang tanpa kehilangan karakter asalnya. Nama LUNGSARA berakar dari kata “lungsin” dan “sara”. Terlebih yang merepresentasikan esensi tenun Nusantara yang terus mempertemukan tradisi dengan pembaruan. Karena itu, koleksi yang di tampilkan tidak di buat untuk sekadar mengulang bentuk lama. Sebaliknya, para desainer di beri ruang untuk menerjemahkan karakter kain sesuai bahasa mode masa kini. Dalam Fashion Nation 2026, Cita Tenun Indonesia menggandeng tiga jenama muda, yaitu Saroong Atelier, Othman, dan KMK by Karel Karuniawan.

Ketiganya mengeksplorasi material dari daerah berbeda, mulai dari Bali, Sulawesi Selatan, hingga Banten. Langkah ini sekaligus memperlihatkan perhatian CTI terhadap regenerasi. Karena generasi baru pelaku mode dapat mengenal teknik, karakter, dan tantangan dalam mengolah kain tradisional. Menurut CTI, pembinaan perajin tidak berhenti pada produksi kain. Program tersebut juga diarahkan agar wastra memiliki pasar yang lebih luas. Dengan demikian, ketika tenun masuk ke industri mode modern, manfaatnya diharapkan dapat kembali kepada perajin dan masyarakat di daerah asal. Selain itu, CTI disebut telah menjalankan program pelatihan perajin yang mencakup 28 daerah di 14 provinsi. Kolaborasi dengan jenama muda menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan hasil pembinaan tersebut kepada publik yang lebih luas dalam Cita Tenun Indonesia.

Saroong Atelier Eksplorasi Tenun Bali

Saroong Atelier Eksplorasi Tenun Bali melalui perpaduan Tenun Rangrang dari Nusa Penida dan Endek Bali 3D. Tenun Rangrang dikenal dengan motif geometris zig-zag serta efek berlubang, sementara Endek Bali 3D mempunyai motif timbul yang memberikan dimensi pada permukaan kain. Dalam koleksi LUNGSARA, kedua material tersebut di terjemahkan menjadi busana perempuan dengan siluet playful, asimetris, dan warna yang cerah. Pendekatan ini membuat kain tradisional terlihat lebih dinamis dan dekat dengan gaya berpakaian kontemporer. Menariknya, proses tersebut juga menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu berarti mengganti identitas kain. Justru, karakter khas tenun tetap di pertahankan. Lalu di perkuat melalui potongan, konstruksi, dan styling yang lebih modern.

Othman Dan KMK Tampilkan Karakter Berbeda

Sementara itu, Othman Dan KMK Tampilkan Karakter Berbeda membawa Tenun Sobi dari Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. Kain ini memiliki teknik khas, yakni motif di buat melalui proses cungkil. Sehingga tidak menembus hingga bagian belakang kain. Keterbatasan ukuran material menjadi tantangan tersendiri bagi Othman. Kemudian yang biasanya menggunakan bahan berukuran lebih lebar dan panjang. Hasilnya, Tenun Sobi di olah menjadi koleksi menswear dengan siluet oversized dan nuansa classy vintage. Outer, jaket, loose top, hingga celana menjadi bagian dari eksplorasi tersebut. Berbeda lagi dengan KMK by Karel Karuniawan yang menjadikan Tenun Baduy dari Banten sebagai material utama. Koleksinya menampilkan siluet eksperimental dengan permainan proporsi dan tekstur. Karel juga menghadapi tantangan berupa ukuran kain yang terbatas. Serta karakter warna yang membutuhkan pencocokan secara cermat.

LUNGSARA Buktikan Tenun Bisa Terus Berevolusi

Kehadiran LUNGSARA Buktikan Tenun Bisa Terus Berevolusi. Pengembangan desain, regenerasi kreator, dan perluasan pasar juga menjadi bagian penting agar wastra tetap hidup. Kolaborasi tiga jenama tersebut memperlihatkan tiga pendekatan berbeda terhadap kain Nusantara. Saroong Atelier menonjolkan energi tenun Bali, Othman mengangkat karakter Tenun Sobi, sedangkan KMK menghadirkan eksplorasi Tenun Baduy dengan bahasa desain yang lebih eksperimental. Pada akhirnya, LUNGSARA menunjukkan bahwa tradisi dan inovasi dapat berjalan beriringan. Ketika kain Nusantara di beri ruang untuk diterjemahkan secara kreatif, tenun tidak hanya menjadi simbol masa lalu. Akan tetapi juga dapat hadir sebagai bagian dari mode Indonesia masa kini dan masa depan. Pendekatan ini menjaga relevansi sekaligus memperluas apresiasi terhadap tenun Nusantara dalam Cita Tenun Indonesia.