Stop Share Foto Jenazah! Belajar Etika Dari Kasus Lula Lahfah

Stop Share Foto Jenazah! Belajar Etika Dari Kasus Lula Lahfah

Stop Share Foto Jenazah! Belajar Etika Dari Kasus Lula Lahfah Mengingat Ramai Seruan Mengenai Death Is Not Content. Media sosial kembali di uji nurani kolektifnya. Publik di kejutkan oleh beredarnya foto jenazah Lula Lahfah yang tersebar luas di berbagai platform digital. Dan alih-alih menjadi ruang empati dan doa. Namun sebagian linimasa justru di penuhi unggahan ulang, potongan tangkapan layar, hingga komentar sensasional. Dari sinilah muncul seruan keras bertajuk “Death Is Not Content”. Tentu menjadi sebuah pengingat bahwa kematian bukanlah bahan konsumsi konten. Kasus ini memantik diskusi serius soal etika bermedia sosial. Kemudian batas empati publik, serta tanggung jawab moral warganet. Para sosiolog pun angkat bicara, memperingatkan bahaya normalisasi konten kematian yang di bungkus rasa ingin tahu semata. Berikut fakta-fakta yang terjadi di media sosial sekaligus pelajaran penting untuk Stop Share Foto almarhum. Karena dengan Stop Share Foto jenazah tersebut setidaknya kalian punya empati.

Viral Tanpa Kontrol: Algoritma Mengalahkan Empati

Fakta pertama yang mencolok adalah bagaimana foto jenazah Lula Lahfah bisa menyebar begitu cepat. Dalam hitungan jam, gambar tersebut berpindah dari satu akun ke akun lain. Dan seringkali tanpa sensor dan tanpa konteks yang berimbang. Banyak pengguna berdalih “sekadar repost” atau “sudah terlanjur viral”. Fenomena ini menunjukkan bagaimana algoritma media sosial bekerja lebih cepat daripada kesadaran etika. Konten yang memicu emosi termasuk duka dan kejutan. Terlebih yang cenderung mendapat interaksi tinggi. Sehingga terus di dorong ke lebih banyak pengguna. Di titik inilah empati sering kalah oleh keinginan untuk menjadi yang paling update.

Seruan “Death Is Not Content” Dan Perlawanan Warganet

Di tengah arus penyebaran, muncul gerakan tandingan dari warganet yang lebih sadar etika. Tagar #DeathIsNotContent ramai digunakan sebagai bentuk protes moral. Banyak pengguna mengingatkan bahwa jenazah bukan objek tontonan, apalagi bahan engagement. Seruan ini tidak hanya berupa kata-kata, tetapi juga aksi nyata: melaporkan unggahan tidak etis, mengedukasi lewat thread panjang. Terlebihnya hingga mengajak unfollow akun-akun yang mengeksploitasi tragedi. Fakta ini menunjukkan bahwa kesadaran kolektif sebenarnya ada. Meski sering tenggelam oleh kebisingan viralitas.

Perspektif Sosiolog: Normalisasi Kekerasan Visual Di Ruang Digital

Para sosiolog menilai kasus Lula Lahfah sebagai contoh nyata normalisasi kekerasan visual di media sosial. Ketika foto jenazah dibagikan berulang kali, publik perlahan kehilangan sensitivitas. Kematian tidak lagi di pandang sebagai peristiwa sakral. Namun melainkan sekadar konten yang “ramai”. Menurut para ahli, kebiasaan ini berbahaya dalam jangka panjang. Ia membentuk budaya digital yang tumpul empati, mengaburkan batas privasi, dan melukai keluarga korban yang masih berduka. Media sosial seharusnya menjadi ruang sosial, bukan etalase tragedi.

Pelajaran Etika: Berpikir Sebelum Membagikan

Fakta terakhir sekaligus terpenting adalah pelajaran etika yang sering di abaikan. Tentunya tidak semua hal pantas di bagikan. Kasus ini menegaskan pentingnya prinsip sederhana namun krusial. Terlebihnya untuk berpikir sebelum mengunggah atau menyebarkan. Sosiolog menekankan tiga pertanyaan etis: apakah konten ini menghormati korban? Apakah membawa manfaat publik? Dan apakah saya rela jika hal serupa terjadi pada keluarga saya? Jika jawabannya tidak, maka sebaiknya berhenti di jari sendiri. Kasus Lula Lahfah bukan sekadar kontroversi sesaat. Namun melainkan cermin budaya digital kita hari ini. Seruan ini adalah alarm keras agar media sosial kembali menjadi ruang manusiawi. Di era serba cepat, empati justru harus bergerak lebih dulu daripada tombol share.

Jadi kalian yang punya akal pikiran dan hati, sebaiknya untuk Stop Share Foto.